Rabu, 11 Oktober 2017

Manajemen Pemasaran Farmasi

Manajemen Pemasaran Farmasi

Manajemen Pemasaran adalah salah satu kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan perusahaannya, berkembang, dan mendapatkan laba.

Proses pemasaran itu dimulai jauh sebelum barang-barang diproduksi, dan tidak berakhir dengan penjualan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus juga memberikan kepuasan kepada konsumen jika menginginkan usahanya berjalan terus, atau konsumen mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap perusahaan (Dharmmesta & Handoko, 1982).
Pengertian Pemasaran
  • Menurut W.J.Stanton : Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial 
  • Soffian Assuri, M.BA : Pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. 
Konsep Pemasaran
Tujuan organisasi perusahaan adalah melakukan riset dan menetukan pasar yang menjadi sasaran serta mengembangkan penawaran dan program pemasaran secara efektif sebagai kunci untuk menarik pembeli dan mempertahankan langganan.

Industri farmasi memproduksi sedemikian banyak obat, baik obat ethical (sering juga disebut obat keras yang dapat diperoleh hanya dengan resep dokter) maupun obat bebas (Over The Counter / OTC). Dalam satu kelas terapi terdapat banyak obat yang mempunyai indikasi / khasiat yang sama dengan berbagai nama dagang (brand name) maupun nama generik, yang diproduksi oleh berbagai perusahaan farmasi. Di Indonesia saat ini terdapatt 198 perusahaan manufaktur farmasi yang terdiri dari perusahaan domestik  maupun multi nasional yang memproduksi belasan ribu item obat. Obat yang dihasilkan oleh produsen farmasi Indonesia tersebut kemudian didistribusikan oleh pedagang besar farmasi (PBF)/ distributor kepada apotek, Rumah Sakit dan toko obat (Untuk OTC) diseluruh Indonesia, menjangkau konsumen dalam skala yang sangat luas mencapai ratusan juta produk Indonesia. Selain dipasarkan didalam negeri, obat-obat tersebut juga diekspor keberbagai negara.
Konsep pemasaran disusun dengan memasukan tiga elemen/ unsur pokok, yaitu :
  • Orientasi pada konsumen
  • Volume penjualan yang menguntungkan
  • Kordinasi dan integrasi seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan
Menentukan Jumlah Penyalur 
1. Distribusi intensif (intensive Distribution)
    Perusahaan menggunakan peyalur tertama pengecer sebanyak banyaknya, untuk mendekati dan mencapai konsumen, untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan konsumen. 
2. Distribusi selektif (selective distribution)
    Perusahaan menggunakan pedagang/pengecer yang terbatas dalam suatu daerah geografi tujuannya untuk meniadakan pengecer / penyalur yang tidak menguntungkan. 
3. Distribusi ekslusif (exclusive distribution)
    Perusahaan hanya menggunakan satu pengecer dalam daerah pasar tertentu dengan tujuan agar produsen lebih mudah dalam melakukan pengawasan pada tingkat harga eceran dan kerja sama dengan penyalur terutama dibidang periklanan.

Ringkasan Ilmu Resep



Ringkasan Ilmu Resep


A. Pengertian Ilmu Resep


Ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari tentang cara penyediaan obat-obatan menjadi bentuk tertentu hingga siap digunakan sebagai obat. Ada anggapan bahwa ilmu ini mengandung sedikit kesenian, maka dapat dikatakan bahwa ilmu resep adalah ilmu yang mempelajari seni meracik obat (art of drug compounding), terutama ditujukan untuk melayani resep dari dokter.


Penyediaan obat-obatan disini mengandung arti pengumpulan, pengenalan, pengawetan dan pembakuan dari bahan obat-obatan. Melihat ruang lingkup dunia farmasi yang cukup luas, maka mudah dipahami bahwa ilmu resep tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan cabang ilmu yang lain, seperti fisika, kimia, biologi dan farmakologi.


Pada waktu seseorang mulai terjun masuk kedalam pendidikan kefarmasian berarti dia mulai mempersiapkan dirinya untuk melayani masyarakat dalam hal :


•Memenuhi kebutuhan obat-obatan yang aman dan bermutu.

•Pengaturan dan pengawasan distribusi obat-obatan yang beredar di masyarakat.

•Meningkatkan peranan dalam bidang penyelidikan dan pengembangan obat-obatan.

Mempelajari resep berarti mempelajari penyediaan obat-obatan untuk kebutuhan si sakit. Seseorang akan sakit bila mendapatkan serangan dari bibit penyakit, sedangkan bibit tersebut telah ada semenjak diturunkannya manusia pertama.


B. Sejarah Kefarmasian


Ilmu resep sebenarnya telah ada dikenal yakni semenjak timbulnya penyakit. Dengan adanya manusia di dunia ini mulai timbul peradaban dan mulai terjadi penyebaran penyakit yang dilanjutkan dengan usaha masyarakat untuk melakukan usaha pencegahan terhadap penyakit.


Ilmuwan- ilmuwan yang berjasa dalam perkembangan farmasi dan kedokteran adalah :


- Hipocrates (460-370), adalah dokter Yunani yang memperkenalkan farmasi dan kedokteran secara ilmiah. Dan Hipocrates disebut sebagai Bapak Ilmu Kedokteran


- Dioscorides (abad ke-1 setelah Masehi), adalah ahli botani Yunani, merupakan orang pertama yang menggunakan tumbuh- tumbuhan sebagai ilmu farmasi terapan. Karyanya De Materia Medica. Obat-obatan yang dibuatnya yaitu Aspiridium, Opium, Ergot, Hyosyamus dan Cinnamon.


- Galen (130-200 setelah Masehi), adalah dokter dan ahli farmasi bangsa Yunani. Karyanya dalam ilmu kedokteran dan obat-obatan yang berasal dari alam, formula dan sediaan farmasi yaitu Farmasi Galenika.


- Philipus Aureulus Theopratus Bombatus Van Hohenheim (1493-1541 setelah masehi), Adalah seorang dokter dan ahli kimia dari Swiss yang menyebut dirinya Paracelcus , sangat besar pengaruhnya terhadap perubahan farmasi, menyiapkan bahan obat spesifik dan memperkenalkan zat kimia sebagai obat internal.


Ilmu farmasi baru menjadi ilmu pengetahuan yang sesungguhnya pada abad XVII di Perancis. Pada tahun 1797 telah berdiri sekolah farmasi yang pertama di perancis dan buku tentang farmasi mulai diterbitkan dalam beberapa bentuk antara lain buku pelajaran, majalah, Farmakope maupun komentar. Kemajuan di Perancis ini diikuti oleh negara Eropa yang lain, misalnya Italia, Inggris, Jerman, dan lain-lain. Di Amerika sekolah farmasi pertama berdiri pada tahun 1821 di Philadelphia.


Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka ilmu farmasipun mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi ilmu yang lebih khusus, tetapi saling berkaitan, misalnya farmakologi, farmakognosi, galenika dan kimia farmasi.


Perkembangan farmasi di Indonesia sudah dimulai semenjak zaman Belanda, sehingga buku pedoman maupun undang-undang yang berlaku pada waktu itu berkiblat pada negeri Belanda. Setelah kemerdekaan, buku pedoman maupun undang-undang yang dirasa masih cocok tetap dipertahankan, sedangkan yang tidak sesuai lagi dihilangkan.


Pekerjaan kefarmasian terutama pekerjaan meracik obat-obatan dikerjakan di apotek yang dilakukan oleh Asisten Apoteker di bawah pengawasan Apoteker. Bentuk apotek yang pernah ada di Indonesia ada 3 macam : apotek biasa, apotek darurat dan apotek dokter.


Dalam melakukan kegiatan di apotek mulai dari mempersiapkan bahan sampai penyerahan obat, kita harus berpedoman pada buku resmi farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan, antara lain buku Farmakope (berasal dari kata “Pharmacon” yang berarti racun/obat dan “pole” yang berarti membuat). Buku ini memuat persyaratan kemurniaan, sifat kimia dan fisika, cara pemeriksaan, serta beberapa ketentuan lain yang berhubungan dengan obat-obatan.


Hampir setiap negara mempunyai buku farmakope sendiri, seperti :


· Farmakope Indonesia milik negara Indonesia


· United State Pharmakope ( U.S.P ) milik Amerika


· British Pharmakope ( B.P ) milik Inggris


· Nederlands Pharmakope milik Belanda


Pada farmakope-farmakope tersebut ada perbedaan dalam ketentuan, sehingga menimbulkan kesulitan bila suatu resep dari negara A harus dibuat di negara B. Oleh karena itu badan dunia dalam bidang kesehatan, WHO ( world health organization ) menerbitkan buku Farmakope Internasional yang dapat disetujui oleh semua anggotanya. Tetapi sampai sekarang masing-masing negara memegang teguh farmakopenya.


Sebelum Indonesia mempunyai farmakope, yang berlaku adalah farmakope Belanda. Baru pada tahun 1962 pemerintah RI menerbitkan buku farmakope yang pertama, dan semenjak itu farmakope Belanda dipakai sebagai referensi saja.


Buku-buku farmasi yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan :


· Farmakope Indonesia edisi I jilid I terbit tanggal 20 Mei 1962


· Farmakope Indonesia edisi I jilid II terbit tanggal 20 Mei 1965


· Formularium Indonesia ( FOI ) terbit 20 Mei 1966


· Farmakope Indonesia edisi II terbit 1 April 1972


· Ekstra Farmakope Indonesia terbit 1 April 1974


· Formularium Nasional terbit 12 Nopember 1978


· Farmakope Indonesia III terbit 9 Oktober 1979


· Farmakope Indonesia IV terbit 5 Desember 1995






Dosis Obat ( Ilmu Resep Kelas 1 )


Pengertian Dosis

Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum, yaitu dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutis dan rektal. Selain dosis maksimal juga dikenal dosis lazim, dalam Farmakope edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa juga untuk bayi dan anak. Umumnya merupakan petunjuk dan tidak mengikat.


Definisi dosis (takaran) suatu obat ialah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita baik untuk dipakai sebagai obat dalam maupun obat luar.Ketentuan Umum FI edisi III mencantumkan 2 dosis yakni :


1). Dosis Maksimal ( maximum), berlaku untuk pemakaian sekali dan sehari. Penyerahan obat dengan dosis melebihi dosis maksimum dapat dilakukan dengan membubuhi tanda seru dan paraf dokter penulisan resep, diberi garis dibawah nama obat tersebut atau banyaknya obat hendaknya ditulis dengan huruf lengkap.


2). Dosis Lazim (Usual Doses), merupakan petunjuk yang tidak mengikat tetapi digunakan sebagai pedoman umum (dosis yang biasa / umum digunakan).


Macam – Macam Dosis

Ditinjau dari dosis (takaran) yang dipakai, maka dapat dibagi sebagai berikut :


1).Dosis terapi

adalah dosis (takaran) yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan si sakit.


2).Dosis maksimum

adalah dosis (takaran) yang terbesar yang dapat diberikan kepada orang dewasa untuk pemakaian sekali dan sehari tanpa membahayakan.


3).L.D.50

adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.


4).L.D.100

adalah dosis (takaran) yang menyebabkan kematian pada 100 % hewan percobaan


Daftar dosis maksimal menurut FI digunakan untuk orang dewasa berumur 20 – 60 tahun, dengan berat badan 58 – 60 kg. Untuk orang yang sudah berusia lanjut dan pertumbuhan fisiknya sudah mulai menurun, maka pemberian dosis lebih kecil dari pada dosis dewasa.


Perbandingan dosis orang usia lanjut terhadap dosis dewasa :


Umur

Dosis


60-70 tahun

4/5 x dosis dewasa


70-80 tahun

¾ x dosis dewasa


80-90 tahun

2/3 x dosis dewasa


90 tahun keatas

½ x dosis dewasa


Dosis untuk wanita hamil

Untuk wanita hamil yang peka terhadap obat-obatan sebaiknya diberi dalam jumlah yang lebih kecil, bahkan untuk beberapa obat yang dapat mengakibatkan abortus dilarang, juga wanita menyusui, karena obat dapat diserap oleh bayi melalui ASI. Untuk anak dibawah 20 tahun mempunyai perhitungan khusus.


Dosis untuk anak dan bayi

Respon tubuh anak dan bayi terhadap obat tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Dalam memilih dan menetapkan dosis memang tidak mudah karena harus diperhitungkan beberapa faktor, antara lain umur, berat badan, jenis kelamin, sifat penyakit, daya serap obat, ekskresi obat. Faktor lain kondisi pasien, kasus penyakit, jenis obatnya juga faktor toleransi, habituasi, adiksi dan sensitip.


Aturan pokok untuk memperhitungkan dosis untuk anak tidak ada, karena itu beberapa tokoh mencoba untuk membuat perhitungan berdasarkan umur, bobot badan dan luas permukaan (body surface ) . Sebagai patokan dapat kita ambil salah satu cara sebagai berkut :


Menghitung Dosis Maksimum Untuk Anak


(1) Berdasarkan Umur.


- Rumus YOUNG : n /n+12 x dosis maksimal dewasa, dimana n adalah umur dari anak 8 tahun kebawah.


- Rumus DILLING : n/20 x dosis maksimal dewasa, dimana n adalah umur dari anak 8 tahun kebawah.


- Rumus FRIED : n/150 x dosis maksimal dewasa, n adalah umur bayi dalam bulan


(2) Berdasarkan Berat Badan (BB)


- Rumus CLARK (Amerika) :


Berat badan anak dalam kg x dosis maksimal dewasa


150 atau Berat Badan Anak dalam pound x dosis maksimal dewasa 68


- Rumus Thermich ( Jerman ) :


Berat Badan Anak dalam kg x dosis maksimal dewasa 70


Ada 3 macam bahan yang mempunyai DM untuk obat luar yaitu :


Naphthol, guaiacol, kreosot

untuk kulit


Sublimat

untuk mata


Iodoform

untuk obat pompa


Dosis maksimum gabungan

Bila dalam resep terdapat lebih dari satu macam obat yang mempunyai kerja bersamaan/searah, maka harus dibuat dosis maksimum gabungan. Dosis maksimum gabungan dinyatakan tidak lampau bila : pemakaian 1 kali zat A + pemakaian 1 kali zat B, hasilnya kurang dari 100 %, demikian pula pemakaian 1 harinya.


Contoh obat yang memiliki DM gabungan : Atropin Sulfas dengan Extractum Belladonnae, Pulvis Opii dengan Pulvis Doveri, Coffein dengan Aminophyllin, Arsen Trioxyda dengan Natrii Arsenas dan lain-lain


Dosis dengan pemakaian berdasar jam, contohnya s.o.t.h. (setiap tiga jam)


(1) Menurut FI edisi II untuk pemakaian sehari dihitung :


24/n X = 24/3 X = 8 kali minum dalam sehari semalam


(2) Menurut Van Duin :


16/n + 1 X = 16/3 + 1 = 6 kali minum obat untuk sehari semalam, kecuali untuk antibiotika dan sulfonamida dihitung 24 jam (seperti rumus dari FI. II)


Dosis untuk larutan mengandung sirup jumlah besar

Harus diperhatikan didalam obat minum yang mengandung sirup dalam jumlah besar yaitu lebih dari 16,67 % atau lebih dari 1/6 bagian, BJ larutan akan berubah dari 1 menjadi 1,3, sehingga berat larutan tidak akan sama dengan volume larutan.


Pengenalan Pertimbangan Dosis

Selain dosis maksimal kita juga mengenal dosis lazim yaitu dosis suatu obat yang dapat diharapkan menimbulkan efek pada pengobatan orang dewasa yang sesuai dengan gejalanya. Rentangan dosis lazim suatu obat menunjukkan kisaran kuantitatif atau jumlah obat yang dapat ditentukan dalam pengobatan biasa . Pemakaian diluar dosis lazim (kurang atau lebih) menyebabkan suatu permasalahan . Misalnya kuman menjadi kebal atau penyakit tidak sembuh.


Dalam Farmakope Indonesia edisi III dicantumkan dosis lazim untuk orang dewasa dan dosis lazim untuk bayi dan anak-anak Selain dinyatakan dalam umur, dosis lazim juga bisa dihitung berdasarkan berat badan pasien mengingat beberapa pasien ada yang tidak sesuai antara umur dan berat badannya.


Untuk obat-obat tertentu, dosis awal atau pemakaian pertama kadang jumlahnya besar, hal tersebut mungkin dibutuhkan untuk tercapainya konsentrasi obat yang diinginkan dalam darah atau jaringan, kemudian dilanjutkan dengan dosis perawatan. Dosis lazim memberi kita sejumlah obat yang cukup tapi tidak berlebih untuk menghasilkan suatu efek terapi.


Obat-obat paten yang dijual di Apotek pada umumnya sudah tersedia dalam dosis lazimnya, sehingga memudahkan tenaga kesehatan (dokter/farmasis) untuk menentukan besarnya dosis lazim untuk orang dewasa maupun anak. Contohnya CTM tablet (4 mg/tablet), Dexamethason tablet (0,5 mg/tablet), Prednison tablet (5 mg/tablet), Ampisillin kapsul (250 mg/kapsul atau 500 mg/kapsul), Ampisillin sirup (125 mg/cth) dan lain – lain.


Mengapa kita perlu mempertimbangkan dosis obat, bila dosis maximalnya tidak lampau ?


Hal tersebut perlu dipertimbangkan karena beberapa macam obat DM nya tidak lampau tetapi dianggap tidak lazim. Misalnya dosis maximal CTM 40 mg per hari, sedangkan dosis lazimnya 6-16 mg /hari. Bila pasien minum CTM tablet 3 kali sehari 2 tablet, dosis maksimalnya belum dilampaui, tetapi dianggap tidak lazim karena efek terapi sudah dapat dicapai cukup dengan pemberian 3 kali sehari 1 tablet.


Resep Beserta Bagian – bagiannya ( Ilmu Resep dasar )


Pengertian Resep


Resep adalah permintaan tertulis seorang dokter , dokter gigi atau dokter hewan yang diberi ijin berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada apoteker pengelola Apotek untuk menyediakan dan menyerahkan obat-obatan bagi penderita. Resep disebut juga formulae medicae, terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter)formulae medicae, terdiri dari formulae officinalis (yaitu resep yang tercantum dalam buku farma-kope atau buku lainnya dan merupakan standar) dan formulae magistralis (yaitu resep yang ditulis oleh dokter)


Resep selalu dimulai dengan tanda R/ yang artinya recipe (ambilah). Dibelakang tanda ini (R/) biasanya baru tertera nama dan jumlah obat. Umumnya resep ditulis dalam bahasa latin. Suatu resep yang lengkap harus memuat :


Nama, alamat dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter hewan


Tanggal penulisan resep, nama setiap obat atau komposisi obat


Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep


Tanda tangan atau paraf dokter penulis resep sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Nama pasien, jenis hewan, umur, serta alamat/pemilik hewan


Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat yang jumlahnya melebihi dosis maksimal.


Pembagian suatu resep yang lengkap :


1). Tanggal dan tempat ditulisnya resep ( inscriptio )


2). Aturan pakai dari obat yang tertulis ( signatura )


3). Paraf/tanda tangan dokter yang menulis resep ( subcriptio )


4). Tanda buka penulisan resep dengan R/ ( invecatio )


5). Nama obat, jumlah dan cara membuatnya ( praescriptio atau ordinatio )


Yang berhak menulis resep adalah dokter, dokter gigi (terbatas pada pengobatan gigi dan mulut) dan dokter hewan (terbatas pada pengobatan hewan). Dokter gigi diberi ijin menulis resep dari segala macam obat untuk pemakaian melalui mulut, injeksi (parentral) atau cara pemakaian lainnya, khusus untuk mengobati penyakit gigi dan mulut. Sedangkan pembiusan / patirasa secara umum tetap dilarang bagi dokter gigi (S.E.) Depkes No. 19/Ph/62 Mei 1962.


Resep untuk pengobat segera

Untuk penderita yang memerlukan pengobatan segera dokter dapat memberi tanda :


Cito : segera


Urgent : penting


Statim : penting


P.I.M : Periculum In Mora = berbahaya bila ditunda.


pada bagian atas kanan resep, apoteker harus mendahulukan pelayanan resep ini termasuk resep antidotum .


Bila dokter ingin agar resepnya dapat diulang, maka dalam resep ditulis Iteratie. Dan ditulis berapa kali resep boleh diulang. Misalkan iteratie 3 X, artinya resep dapat dilayani 1 + 3 kali ulangan = 4 X . Untuk resep yang mengandung narkotika, tidak dapat ditulis iteratie tetapi selalu dengan resep baru.


Komponen Resep Menurut Fungsi

Menurut fungsi bahan obatnya resep terbagi atas :


1). Remidium Cardinal, adalah obat yang berkhasiat utama


2). Remidium Ajuvans, adalah obat yang menunjang bekerjanya bahan obat utama


3). Corrigens, adalah zat tambahan yang digunakan untuk memperbaiki warna, rasa dan bau dari obat utama.


Corrigens dapat kita bedakan sebagai berikut :


a. Corrigens Actionis,

digunakan untuk memperbaiki kerja zat berkhasiat utama.


Contohnya pulvis doveri terdiri dari kalii sulfas, ipecacuanhae radix, dan opii pulvis. Opii pulvis sebagai zat berkhasiat utama menyebabkan orang sukar buang air besar, karena itu diberi kalii sulfas sebagai pencahar sekaligus memperbaiki kerja opii pulvis tsb.


b. Corrigens Odoris,

digunakan untuk memperbaiki bau dari obat. Contohnya oleum Cinnamommi dalam emulsi minyak ikan.


c. Corrigens Saporis,

digunakan untuk memperbaiki rasa obat. Contohnya saccharosa atau sirupus simplex untuk obat – obatan yang pahit rasanya.


d. Corrigens Coloris,

digunakan untuk memperbaiki warna obat . Contohnya obat untuk anak diberi warna merah agar menarik untuk diminum.


e. Corrigens Solubilis,

digunakan untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama. Contohnya Iodium dapat mudah larut dalam larutan pekat KI / NaI


4). Constituens / Vehiculum / Exipiens, merupakan zat tambahan. Adalah bahan obat yang bersifat netral dan dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk, sehingga menjadi obat yang cocok. Contohnya laktosum pada serbuk, amylum dan talcum pada bedak tabur.


Contoh resep berdasarkan fungsi bahan obatnya.


R/ Sulfadiazin 0,500 – Remidium Cardinale


Bic, Natric 0,300 – Remidium Ajuvans


Saccharum 0,100 – Corrigens Saporis


Lact. 0,200 – Constituens


Mf. Pulv.dtd no X


S.t.d.d.p. I


Pro : Tn. Budi


Salinan Resep (Copy Resep)

Salinan resep adalah salinan yang dibuat oleh Apotek, selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli juga harus memuat :


1). Nama dan alamat Apotek


2). Nama dan nomer izin apoteker pengelola Apotek.


3). Tanda tangan atau paraf apoteker pengelola Apotek


4). Tanda det (detur) untuk obat yang sudah diserahkan dan tanda nedet (nedetur) untuk obat yang belum diserahkan, pada resep dengan tanda ITER …X diberi tanda detur orig / detur …..X


5). Nomor resep dan tanggal pembuatan.


Contoh salinan resep.


APOTEK BAHARI


Jl. Thamrin No. 3


Jakarta – Telp. 378945


APA : Drs. Bambang Hariyanto, Apt


SIK ……………………………………………..


Salinan resep No : 259


Dari dokter : Joko Susilo


Ditulis tanggal : 5 Nofember 2001


Pro : Nn. Andriani


R/ Amoxycillin 500 No. XII


S.3.d.d.I —– det


R/ Ponstan FCT No. XII


S.p.r.n. I —–ne det


Jakarta, 5 Nofember 2001


Cap Apotek pcc


Tanda tangan APA


Istilah lain dari copy resep adalah apograph, exemplum, afschrif. Apabila Apoteker Pengelola Apotek berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan resep yang dimaksud diatas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.


Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut perundang-undangan yang berlaku (contohnya petugas pengadilan bila diper-lukan untuk suatu perkara).


Penyimpanan Resep

Apoteker Pengelola Apotek mengatur resep yang telah dikerjakan menurut urutan tanggal dan nomor urut penerimaan resep. Resep harus disimpan sekurang-kurangnya selama 3 tahun. Resep yang mengandung narkotika harus dipisahkan dari resep lainnya.Resep yang disimpan melebihi jangka 3 tahun dapat dimusnahkan.


Pemusnahan resep dilakukan dengan cara dibakar atau dengan cara lain yang memadai oleh Apoteker Pengelola Apotek bersama-sama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas Apotek. Pada pemusnahan resep harus dibuat berita acara pemusnahan sesuai dengan bentuk yang telah ditentukan, rangkap 4 dan ditanda-tangani oleh APA bersama dengan sekurang-kurangnya seorang petugas Apotek.



Apoteker tidak dibenarkan mengulangi penyerahan obat atas dasar resep yang sama apabila pada resep aslinya tercantum tanda n.i. ( ne iteratur = tidak boleh diulang) atau obat narkotika atau obat lain yang oleh Menkes (khususnya Dir Jen. POM) yang ditetapkan sebagai obat yang tidak boleh diulang tanpa resep baru dari dokter.



Banjo The Bunny Virtual Pet

OBAT HERBAL ASAM URAT

obat asam urat

Obat Herbal Asam Urat

Asam urat atau orang Indonesia sering menyebutnya dengan penyakit rematik adalah salah satu penyakit yang umum terjadi di Indonesia. Penyakit ini banyak terjadi pada orang-orang yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Kebanyakan penderita penyakit ini karena pola hidup yang tidak sehat di masa mudanya.

Penyebab Asam Urat Yang Umum Terjadi

Ada beberapa hal yang memang telah terbukti mampu membuat asam urat menjadi naik, berikut beberapa di antaranya.
1. Faktor usia
Seperti yang sudah sedikit dijelaskan di atas, orang-orang dengan usia di atas 30 tahun sangat rentan terkena asam urat. Biasanya terjadi lebih awal pada laki-laki, sedangkan untuk wanita biasanya terjadi setelah fase menopause. Meskipun tidak semua orang mengalami penyakit asam urat, namun Anda perlu menjaga kesehatan tubuh Anda dengan baik sejak muda.
2. Efek Samping Obat
Penyebab asam urat yang berikutnya adalah karena efek samping obat, inilah yang akan terjadi jika Anda tidak selektif dalam menggunakan obat. Biasanya diakibatkan karena obat-obatan kimia yang memang sering digunakan. Oleh sebab itulah penggunaan obat tradisional atau obat herbal lebih dianjurkan dibandingkan dengan obat-obatan kimia.
3. Faktor Keturunan
Asam urat juga menjadi salah satu penyakit yang bisa diturunkan, resiko seseorang yang memiliki riwayat keluarga sakit asam urat lebih tinggi dibandingkan orang lain. Meski begitu sekalipun Anda memiliki riwayat keluarga yang menderita asam urat, Anda bisa mencegahnya dengan menjalankan pola hidup yang sehat sejak masih muda.
4. Makanan Tidak Sehat
Selain beberapa penyebab di atas, asam urat juga bisa disebabkan karena makanan yang tidak sehat. Ini yang sering kali tidak disadari oleh kebanyakan orang, padahal faktor kesehatan manusia yang paling utama terletak pada apa yang dikonsumsinya. Mengonsumsi makanan tidak sehat akan memicu naiknya asam urat, meskipun tidak terjadi secara langsung.
5. Terlalu Banyak Mengonsumsi Alkohol dan Minuman Bersoda
Penyebab asam urat yang tidak kalah berbahaya adalah karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol dan juga minuman bersoda. Bagi sebagian orang kedua minuman ini menjadi gaya hidup, tanpa sadar bahwa minuman semacam ini sangat tidak baik untuk kesehatan.
Meski bukan sebuah penyakit yang mematikan, namun asam urat akan memberikan rasa sakit yang sangat luar biasa. Tentu saja akan sangat mengganggu aktivitas penderita. Oleh sebab itu sesegera mungkin asam urat harus diobati. 

 © Manjadda Media Prakasa 2017

Selasa, 10 Oktober 2017

MENGENAL JURUSAN FARMASI

Mengenal Jurusan Farmasi dan Prospek Kerjanya

 

Farmasi sesungguhnya adalah salah satu cabang dari ilmu kesehatan .Walaupun bagian dari ilmu kesehatan, Farmasi lebih berfokus pada dasar-dasar seluk beluk mengenai obat-obatan.
Kuliah di jurusan farmasi, ilmu yang dipelajari adalah berupa ilmu untuk membuat sediaan farmasi yang baik (Farmasetika, Bioteknologi Farmasi, Teknologi Sediaan Padat, Analisis Sediaan Farmasi, dll). Sediaan farmasi dapat berupa obat, bahan obat, obat tradisional, kosmetika, vitamin, sabun, shampoo, dan lain sebagainya.
Tidak sekedar itu, farmasi juga mempelajari ilmu yang berkaitan dengan tubuh manusia baik anatomi, fisiologi, patofisiologi, dll seperti ilmu biomedik, biologi sel dan molekuler, biokimia, patobiokimia, dll. Beberapa ilmu lain yang dipelajari antara lain farmakologi, farmasi fisika, mikrobiologi, dll.
Lulusan dari jurusan farmasi ini biasanya kemudian disebut dengan ‘Farmasis’. Gelarnya, jika berasal dari jenjang D3 adalah A.Md.Far. Jika dari jenjang S1 maka gelarnya dalah S.Farm.
Seorang farmasis kelak setelah lulus akan dihadapkan pada aktifitas atau pekerjaan yang membutuhkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran. Maka, jika anda hendak mengambil jurusan farmasi dan menjadi farmais, persiapkanlah untuk memiliki karakter-karakter tersebut.
Selama kuliah menempuh studi di jurusan farmasi, akan menghadapi banyak legiatan penelitian, hafalan dan praktik kerja disamping kuliah reguler di kampus. Semuanya tentu saja yang berkaitan dengan pembuatan serta pemahaman seputar obat-obatan dan bahan-bahan penyusunnya.
Prospek Lulusannya bagaimana?
Soal prospek lulusan farmasi, jangan ditanya. Untuk saat ini lulusan farmasi adalah salah satu lulusan yang memilik prospek cerah. Mengapa demikian? Karena bidang kerjanya sangat luas, tanpa banyak orang yang tahu. Contoh beberapa tempat yang memerlukan tenaga farmasi antara lain:
1. Bidang pemerintahan, terutamanya di Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas dan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)
2. Bagian administrasi pelayanan obat di instansi pemerintahan , polri, maupun TNI.
3. Menjadi dosen pada departemen pendidikan nasional sebagai dosen di bidang farmasi.
4. Bagian apotek atau instalasi farmasi pada berbagai Rumah Sakit.
5. Pada bidang industri obat-obatan misalnya: Kalbe Farma, Bayer, mead Johnsons, dan lain-lain.
6. Pada bidang industri Kosmetik, seperti Mustika ratu, martha Tilaar, Wardah, dan lain-lain.
7. Pada bidang industri makanan seperti Wings Food, Indofood, dan lain-lain.
8. Pada bidang jamu dan obat tradisional seperti air mancur, sido muncul, nyonya meneer, atau deltomed.
9. Pada bidang industri dan perdagangan yang menjadi penjamin mutu, standar keamana dan kualitas produk makanan, obat-obatan maupun kosmetik seperti Sucofindo misalnya.
Tak hanya yang disebutkan diatas, bahkan seorang farmasis bisa sampai diterima bekerja di bank. Hal ini terjadi karena lulusan farmasi lebih sering didapatkan sebagai orang yang terbiasa untuk teliti dan terlatih untuk tekun. Tentu saja jenis orang seperti inilah yang dicari oleh bidang perbankan.
Dari penjelasan di atas kita bisa melihat bahwa ternyata prospek seorang lulusan farmasi untuk mendapat lapangan pekerjaan sekaligus mengabdikan diri kepada masyarakat tidak sekedar pada satu tempat di apotek atau rumah sakit saja tapi bisa lebih luas dari itu.
Namun sejalan dengan peluang yang ada, muncul pula tantangan tersendiri bagi lulusan dan peguruan tinggi farmasi. Selain yang telah disebutkan di awal, bahwa masih banyak yang belum mengenal apa itu sebenarnya ilmu Farmasi termasuk peluang pekerjaan apa saja yang tersedia bagi lulusan lulusan farmasi tersebut.
Maka di sinilah perlunya sosialisasi kepada masyarakat umum tentang pentingnya kehadiran seorang farmasis yang sebenarnya memiliki andil penting serta tanggung jawab dalam bidang kesehatan. Bukan hanya sebagai pendamping dokter sebagai penanggung jawab obat-obatan untuk pasien semata. Sehingga harapannyadapat menarik minat terutamanya dari kaum muda untuk memasuki jurusan farmasi. Selain prospek kerjanya yang masih sangat luas, juga karena lulusan farmasi indonesia khususnya yang menjadi Apoteker masih sangat kurang.
Tapi, apakah itu Apoteker?
Apoteker adalah orang yang memiliki dasar pendidikan dan keterampilan dibidang farmasi. Jadi seorang farmasis dapat menjadi apoteker dengan terlebih dahulu mengikuti pendidikan profesi Apoteker. Setelah lulus dari pendidikan profesi Apoteker ia mendapat tambahan gelar Apt (Apoteker). Seorang apoteker diberi wewenang dan tanggung jawab untuk melaksanakan aktifitas kefarmasian. Tugas utamanya menurut UU kesehatan no. 36 tahun 2009 adalah meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat & obat tradisional.
Saat ini di Indonesia baru ada sekitar 50 ribu-an apoteker. Sedangkan rasio apoteker di Indonesia masih 1 berbanding 8000. Dimana jumlah ini masih jauh dari kata ideal. Contoh nyata bisa kita saksikan dirumah-rumah sakit, yang kebanyakan hanya menyediakan satu atau dua orang apoteker saja.
Demikianlah penjelasan mengenai jurusan farmasi dan prospek kerja jurusan farmasi. Informasi di atas banyak saya ambil dari sini. Oke, semoga bermanfaat.


  Penulis: